Saturday, May 13, 2017

I'm back

Alhamdulillah.. setelah sekian lama gak nulis-nulis di sini, akhirnya bisa balik lagi. Gak terasa udah lama juga, ya. Sampe 2 tahun.

Jadi, ada beberapa alasan yang membuat saya terpaksa harus vakum dari kegiatan tulis menulis, motret-memotret, termasuk juga masak. Alasan pertama adalah adanya bocah unyu-unyu, putra saya yang kedua. Sekitar bulan Maret 2014 saya baru tahu bahwa saya hamil. Nah, kehamilan kali ini membuat saya lebih pemalas daripada sebelumnya termasuk malas masak. Padahal keinginan ngemil luar biasa. Berbeda dengan kehamilan pertama di Indonesia yang disertai ngidam makan-makanan pedas, sate padang, jambu air, kehamilan kedua ini lebih sesuai dengan keadaan. Saya cuma ngidam makanan Turki. Dari mulai kebab, turerkische pizza sampai linsensuppe. Dalam seminggu,saya bisa mendatangi kedai kebab Nazar di Koelnstrasse sebanyak 3 kali. Sayangnya, keinginan ngemil ini tidak bisa saya lakukan dengan bebas mengingat riwayat putri pertama saya yang lahir dengan berat lahir 3800g melalui operasi caesar. Dokter sampai mewanti-wanti agar saya menjaga kenaikan berat badan saya. Namun, meskipun selama hamil saya menjaga pola makan, ternyata putra kedua saya pun terpaksa lahir dengan operasi caesar lagi karena berat lahirnya hanya berbeda 70g dari kakaknya, yaitu 3730g. Deuuh, pakai diet aja tetap segitu. Apalagi kalau bebas blas. Bisa-bisa lahir 4000g.

Alasan kedua adalah pindahan. Tidak tanggung-tanggung, kepindahan kali ini adalah pindah habis dari Jerman alias back for good. Kembali ke Indonesia. Yeeeeaay...
Wacana untuk pindah sebenarnya sudah ada sejak tahun 2012. Saat itu ada beberapa pilihan, yaitu pindah ke kota lain di Jerman, pindah negara (di Eropa atau UEA) atau kembali ke Indonesia. Karena sepanjang tahun 2013 masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan, rencana pindah harus ditunda. Eh, dan ternyata di tahun 2014 saya hamil lagi. Jadi terpaksa rencana ditunda lagi  sampai saya melahirkan.
Keputusan untuk back for good ke Indonesia akhirnya kami pilih setelah melalui perenungan dan diskusi yang panjang. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kami mengepak semua barang di apartemen kami sehingga bisa dibawa dengan selamat menggunakan kontainer ke Indonesia? Bagaimana memindahkan sekolah anak dari Jerman ke Indonesia?
Untuk pengepakan barang saya lakukan berdua dengan suami.  Saya mulai mencicil membungkus barang sejak perut saya masih kempes, buncit, sampai kempes lagi. Dilakukan pagi -siang -malam, disambil melakukan kegiatan sehari, belanja, antar jemput anak sekolah, ke dokter, menyusui dll.
Urusan pindah sekolah anak yang selanjutnya agak ribet, terutama mencari sekolah tujuan. Namun alhamdulillah berkat bantuan keluarga di Jakarta, masalah ini bisa diatasi.  Berikutnya yang tak kalah ribetnya adalah urusan surat-surat dan dokumen. Manalah departemen pendidikan kalau dikontak via email tidak membalas. Pokoknya rempong deh.

Alasan ketiga. Setiba kami di Jakarta, mulailah masa adaptasi. Adaptasi dengan cuaca, waktu, kebiasaan. Ini saya rasakan agak berat terutama karena sedang punya bayi usia 3 bulan. Sebelumnya di Jerman, saya biasa kemana-mana pergi membawa bayi di dalam stroller. Entah itu belanja, ke dokter, jalan-jalan. Semua bisa dilakukan dengan mudah. Sekarang lebih sulit karena kemana-mana harus dengan mobil. Mana tanpa baby sitter dan supir. Belum lagi kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk membawa anak kemana-mana dengan stroller. Untuk jalan di komplek saja saya bolak-balik terpaksa berputar jalan karena jalannya ditutup dengan rantai, banyak polisi tidur, dll. Kalau cuaca sedang terik, duh pengen nangis rasanya.

Alasan keempat adalah kami masih menumpang tinggal dengan orang tua. Selama setahun, sambil menunggu rumah kami rampung, kami dan barang-barang kami terpaksa berada di rumah orang tua. Keadaan ini pun membuat kami harus beradaptasi dengan kebiasaan keluarga lain di rumah. Saya, suami dan anak-anak yang selama ini biasa tinggal sendiri, dengan aturan sendiri, harus menyesuaikan diri agar jangan sampai terjadi konflik dengan anggota keluarga lain di rumah.

Alasan kelima. Belum ada internet dan laptop rusak. Laptop yang sudah menemani saya selama bertahun-tahun, tiba-tiba ikut ngambek. Jadilah semakin menyulitkan saya untuk menulis di blog.

Alhamdulillah, setelah berbagai fase sudah dilewati, keadaan kami pun saat ini sudah mulai stabil. Semoga  sekarang bisa lebih rajin lagi memasak, memotret lalu menuliskannya di blog.




Monday, June 30, 2014

Mie siram daging lada hitam


Masakan ini dibuat sesuai dengan permintaan suami saya. Dia selalu teringat dengan mie siram ala Bakmi GM. Alhasil saya sering kali dibujuknya agar mau membuatkan mie tersebut. 

Cheese Stick (dengan electric pasta maker)



Sejak beberapa hari yang lalu saya terpikir untuk membuat cemilan asin. Apalagi ini sudah masuk bulan Ramadhan. Hitung-hitung membuat stok makanan untuk lebaran. Itu pun sebenarnya kalau tak bernasib seperti sus kering yang sudah tandas sebelum waktunya. Tidak apa-apa juga sebenarnya, sih. Toh yang menghabiskan pun putri dan suami saya yang memang sangat menggemari cemilan asin.

Es Teh Susu ala Thailand (Cha Yen, Thai Milk Tea)


Minuman ini sering sekali disebut-sebut oleh salah seorang kawan saya yang pernah merasakan tinggal di Thailand. Menurut ceritanya, minuman ini banyak dijajakan di pinggir jalan, dengan harga murah. Konon saat ini di Jakarta Cha Yen sedang booming dan sudah banyak dijajakan di mal-mal. Harganya bervariasi, dari ribuan rupian sampai puluhan ribu rupiah segelasnya. MInuman
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...