Friday, December 8, 2017

Muffin Pisang




Putri saya penggemar pisang cavendish. Hanya saja, kalau kulit pisangnya sudah ada noda coklat sedikit saja, pasti dia tidak mau menyentuhnya lagi. Padahal sudah bolak balik diberi tahu bahwa itu tak akan mempengaruhi rasa pisang. Tetap saja dia tidak mau. Alasannya konsistensi pisang jadi lembek dan dia tidak suka. Alhasil, seringkali saya menemukan pisang yang sudah matang sempurna dengan kulit gelap, serta kadang berair, di meja makan. 
Dulu saat masih di Jerman, pisang terlalu matang sering saya gunakan untuk membuat cake pisang. Setelah di sini, pisang lebih sering saya jadikan campuran jus dengan buah yang lain. Gampang dan cepat. 

Thursday, December 7, 2017

Es Krim Yoghurt




Beberapa waktu lalu, saya merasa sedih luar biasa. Penyebabnya adalah saya baru tahu kalau ternyata mixer Bosch saya rusak, bersamaan dengan alat pembuat roti (Brotbackmaschine) Gastroback. Untuk mixer Bosch, yang terjadi adalah setiap kali dinyalakan, baru kecepatan 1 saja mixer sudah lari tancap gas. Ini berlangsung beberapa detik, lalu mati. Jika dipindahkan ke putaran yang lain pun, sama saja. Hhuuuuu... sedih hati ini. Saya membeli mixer itu sekitar tahun 2009. Mixer ini menemani perjalanan saya dari sejak awal belajar baking sampai saat ini. Banyak kenangan, deh. Dari adonan yang gagal sampai

Thursday, November 16, 2017

Membangun Oven Pizza





Kali ini saya akan menceritakan tentang projek suami yang masih berhubungan dengan kuliner tentunya, yaitu membuat oven pizza kayu bakar atau steinoven atau oven batu. Seperti sudah pernah diceritakan di postingan tentang pizza, keluarga kami memang penggemar pizza ala Italia yang tipis dan kriuk itu. Aroma keju meleleh, salami panggang yang bercampur dengan aroma kayu bakar , hhhmm.... memang menggugah selera. Setiap kami berkunjung ke Tuscolo, restoran pizza favorit kami di Bonn, tak pernah bosan kami memandangi koki yang bolak balik mengeluarkan pizza dari dalam oven pizza berbahan bakar kayu. 

Tuesday, November 14, 2017

Klapertaart wilton


Selama hampir 8 tahun di Jerman, terhitung hanya 2 kali saya makan kelapa muda. Awalnya saat saya sedang hamil anak pertama, sekitar tahun 2007, saya membeli kelapa muda di toko Asia. Bayangan saya atas nikmatnya kelapa muda asli ala Indonesia jadi rusak gara-gara kelapa Thailand ini. Rasa kelapanya sama sekali tidak enak. Wajar juga sih, kelapa yang saya beli itu sudah dalam keadaan dikupas kulit hijaunya, lalu dibungkus plastik wrap dan disimpan di kulkas. Pengemasan seperti itu dan perjalanan jauh dari Thailand,  pasti sudah merubah rasa asli kelapanya. Tapi kok tetap dibeli? yaah, namanya juga keinginan orang hamil.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...